josbet
LIVEDupa atau setanggi dikenal lewat asapnya yang harum, tetapi aroma hanya satu bagian dari ceritanya. Bahan, bentuk, dan cara pembakaran membantu menjelaskan mengapa dupa hadir dalam ritual keagamaan maupun penggunaan nonritual seperti aromaterapi, meditasi, deodoran sederhana, dan penolak serangga. [1]
Bentuk dupa berkaitan dengan cara pembakarannya
Dupa umumnya terbagi menjadi dua jenis: yang dibakar dengan sumber api terpisah dan yang langsung dibakar. Jenis yang langsung dibakar lazimnya berupa pasta kering yang dibalut pada tongkat; bagian yang menyala tampak seperti bara. Bentuk ini dikenal sebagai hio dalam upacara Tionghoa. [1]
Pada jenis yang memakai sumber api terpisah, dupa dan sumber pembakarnya tidak berada dalam satu bentuk seperti tongkat yang menyala langsung. Contoh yang disebut dalam praktik ibadat tertentu ialah dupa yang dibakar dengan arang di dalam turibulum, wadah logam bertutup berlubang dan bergantungan rantai. [1]
Perbedaan bentuk ini memberi petunjuk tentang cara dupa digunakan, bukan sekadar rupa yang terlihat. Sebatang dupa yang menyala langsung dan dupa yang dibakar dengan arang melibatkan susunan pembakaran yang berbeda. [1]
Bahan aromatiknya beragam
Dupa umumnya dibuat dari tumbuh-tumbuhan aromatik, yang sering dikombinasikan dengan minyak asiri. Untuk hio yang digunakan dalam upacara Tionghoa, bahan yang umum disebut ialah gaharu dan cendana. [1]
Dalam ibadat gereja tertentu, dupa umumnya menggunakan kemenyan atau resin mur. Perbedaan bahan tersebut menunjukkan bahwa kata "dupa" mencakup beragam bahan aromatik; tidak semua dupa tersusun dari bahan yang sama. [1]
Konteks pemakaian melampaui urusan aroma
Dalam penggunaan nonritual, dupa dapat dipakai untuk aromaterapi dan meditasi, serta sebagai deodoran sederhana atau penolak serangga. Kutipan sumber tidak merinci cara atau hasil dari penggunaan tersebut, sehingga yang dapat dipastikan di sini adalah ragam konteksnya, bukan manfaat tertentu di luar yang disebutkan. [1]
Dalam tradisi, dupa digunakan dalam ritual keagamaan, termasuk sembahyang dan ibadah. Pemakaiannya tercatat dalam sejumlah kepercayaan, seperti kepercayaan tradisional Tionghoa, Taoisme, Konghucu, Buddha, Hindu, dan Kejawen; dupa juga digunakan dalam misa dan ibadat di sejumlah gereja Kristen. [1]
Karena bentuk, bahan, dan konteksnya beragam, dupa lebih tepat dipahami sebagai kelompok bahan aromatik dengan cara penggunaan yang berbeda-beda. Aroma menjadi pintu masuk untuk mengenalinya; cara pembakaran dan tradisi pemakaiannya memberi gambaran yang lebih utuh tentang perannya. [1]
Sumber
- [1] Wikipedia bahasa Indonesia — Dupa. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=29112278&title=Dupa (diakses 2026-10-03).